Saturday, August 2, 2014

Mengenalkan Budaya Sunda



Oleh YOPPY YOHANA
Banyak sekali budaya Sunda yang perlu kita kenalkan kepada anak cucu kita supaya generasi berikutnya tidak pareumeun obor atau tuna budaya, tetapi tetap mikawanoh dan bangga terhadap budayanya sendiri. Hasil dari budaya orang Sunda yang terkenal diantaranya: tentang adat dan adabnya, bahasanya, termasuk di dalamnya prilaku sopan-santun, dan cara berpakaian.
Khusus mengenai cara berpakaian orang Sunda menarik untuk dibahas, karena penuh dengan makna dan siloka, tetapi sekarang ini jarang ditemui orang Sunda memakainya.  Seperti diungkapkan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi (PR, 25 Juni 2012) tradisi Samping Jangkung, Gelung Jucung, Pangsi dan Iket mulai dilupakan.  Sehingga digelar Lomba tentang cara berpakaian tradisional Sunda dengan nama acara: Lomba “ Samping Jangkung, Gelung Jucung, Pangsi Iket Festival 2012” di Purwakarta tanggal 23 Juni 2012.
Menurut penulis, sebaiknya mengenalkan pakaian tradisional Sunda bukan hanya kepada remaja dan orang dewasa yang dianggap sudah tidak tertarik lagi dan terkontaminasi budaya barat, tetapi mengenalkannya harus mulai dari tingkat PAUD, SD, SMP dan seterusnya. Mengenai pakaian Sunda, bukan hanya mengenalkan tetapi harus menjadi pembiasaan di setiap sekolah dan masuk dalam tata tertib sekolah, misalnya cukup satu kali dalam seminggu yaitu tiap hari sabtu semua wajib memakai pakaian tradisional Sunda.
Khusus untuk pakaian batik sekolah, Alhamdulillah kita patut berbangga karena sudah menjadi pembiasaan mulai dari tingkat dasar sampai atas biasanya tiap hari rabu-kamis atau kamis saja karena hari jumat biasanya memakai baju koko. Semua instansi di luar sekolah pun sudah menjadi keharusan ada satu hari untuk memakai batik. Tetapi untuk pakaian tradisional Sunda nampaknya belum ada sekolah yang menentukan satu hari untuk memakainya. Alangkah indahnya kalau misalnya tiap hari sabtu semua siswa dan guru memakai pakaian tradisional Sunda. Kelihatannya lebih membumi dan punya jati diri Sunda. Kalau laki-laki pangsi dengan iketnya, perempuan kebaya, samping jangkung dan gelung jucungnya.
Samping jangkung melambangkan kegesitan. Ibu-ibu Sunda dahulu itu kuat, gesit, cepat, bekerja serta berusaha dengan kelembutan menghadapi berbagai perubahan. Gelung jucung, melambangkan ulet, kuat, dan kerja keras. Ibu-ibu Sunda rambutnya selalu diikat ke atas itu berarti bekerja keras. Pangsi/kampret melambangkan lelaki Sunda itu kuat, cepat dan pekerja keras. Kampret juga melambangkan cuaca di Sunda panas dan dingin. Sehingga terciptalah Kampret dengan dua warna yaitu hitam untuk musim hujan dan putih untuk musim kemarau.
Iket melambangkan kecerdasan antara pikiran dan hati, kecerdasan emosional, intelektualitas dan spiritualitas. Seluruh pembangunan di Tatar Sunda atau Jawa Barat bisa berhasil karena menggunakan pikiran dan hati. Selain itu iket pada bagian depannya berupa segi tiga runcing melambangkan tentang keesaan Allah mengisyaratkan ketika kita dimana saja harus ingat kepada Yang Maha Kuasa.
Pakaian itu merupakan salah satu warisan kebudayaan Indonesia. Namun yang paling penting bukan hanya memperlihatkan pakaiannya, tetapi memaknai gerak jalan orang Sunda harus maju dan cepat menghadapi perubahan. Jangan sampai orang Sunda kesannya berleha-leha, nyantai dan ngagere ceuli saja persis Si Kabayan. Padahal karakter orang Sunda yang asli adalah gesit, pekerja keras, bersinergi dengan alam, someah dan tegas. Karakter tersebut terlihat bukan hanya dari cara berpakaian tetapi dari huruf atau aksara Sunda pun sudah menggambarkan ketegasan orang Sunda. Lihat saja jenis huruf dan aksara Sunda karakternya seperti angka tujuh atau seperti pacul tidak banyak pupuringkelan seperti aksara dari daerah lainnya.
Mudah-mudahan orang-orang Sunda generasi sekarang dan yang akan datang mampu  menggali potensinya sendiri dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga orang Sunda lebih motekar dan maju dari segala bidang. Untuk kebijakan satu hari dalam seminggu memakai pakaian adat Sunda minimalnya di sekolah dahulu, kita tunggu apakah para pemimpin kita ada yang peduli, bangga jeung nyaah ka budaya sorangan. Masa kalah oleh para pelajar dan mahasiswa luar negeri yang belajar di kita termasuk para turisnya yang bangga memakai pakaian adat kita.

                        Penulis, Guru Seni Budaya SMPN 35 Bandung
Dipublikasikan di HU Pikiran Rakyat, Kolom Forum Guru (Sabtu, 17/11/2012)

Membentuk Karakter Melalui Jamban Jujur

Oleh: YOPPY YOHANA

         Ada ungkapan spontan dari rekan kerja yang mengatakan, “di zaman sekarang sulit menemukan orang-orang yang jujur”, ada juga yang mengatakan “kalau terlalu jujur tidak akan mujur”. Itulah gambaran yang mengarah kepada keputusasaan seseorang di zaman sekarang karena betapa mahalnya orang jujur yang kini kian sulit ditemukan. Kalimat kedua merupakan gambaran ketakutan seseorang yang tidak percaya diri akan nilai kejujuran sehingga ia melakukan segala daya dan upaya dengan menghalalkan berbagai cara hanya untuk meraih ambisinya secara instan.
            Memang tidak dapat dipungkiri di akhir zaman ini, masalah degradasi moral sudah menghawatirkan sehingga sejak tahun 2010 pemerintah muncul inisiatif ingin membenahi moral atau akhlak lewat gerakan nasional pendidikan karakter di sekolah-sekolah. Namun, rupanya pendidikan karakter hasilnya tidak begitu memuaskan karena tetap masih banyak sekali penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan para murid sampai mahasiswa ditambah lagi ada oknum guru yang berbuat asusila kepada muridnya. Akhirnya tahun 2013 muncul lagi kurikulum baru, yang direncanakan eksekusinya bulan Juli mendatang. Tetapi sampai sekarang masih ada pro dan kontra karena dari draf kurikulum 2013 salah satu isinya diindikasikan bahasa daerah akan semakin terpinggirkan.
            Menjelang Ujian Nasional bulan April mendatang, akankah kita semua dan para siswa bisa berbuat jujur? Entahlah kalau kepentingan sudah bermain, segala cara bisa dilakukan sehingga membuat segala sesuatunya jadi tidak jujur lagi. Untuk mendekatkan para siswa dan guru kepada kebiasaan jujur, maka di SMPN 1 Panjalu Kabupaten Ciamis dibangun “Jamban Jujur” dengan tujuan akan membentuk karakter jujur dalam kehidupan sehari-hari. Jamban ini mulai beroprasi sejak awal Januari 2013. Dari pembiasaan ini diharapkan semakin menguatkan keyakinan bahwa kita sebenarnya tidak akan lepas dari penglihatan Allah di manapun berada. Selain itu diharapkan dalam berbuat jujur, bukan hanya saat dilihat oleh manusia saja namun ada dua malaikat yang selalu mencatat amal kita.
            Jamban jujur didesain sedemikian rupa, dengan memperhatikan standar kebersihan, kesehatan dan keindahan sehingga orang akan tertarik untuk masuk dan mempergunakannya. Untuk menjaga kebersihan, pengguna tidak diperbolehkan memakai sepatu atau sandal namun ada alas kaki khusus yang disediakan. Selain bersih, nyaman dan luas jamban ini juga wangi. Toilet pria dan wanita dibuat terpisah dengan tujuan untuk keamanan dan kenyamanan para pengguna. Khusus untuk toilet wanita disediakan pembalut dan tisu yang bisa diambil sendiri kemudian uang pembayarannya disimpan di tempat karena harga sudah tercantum. Bagi mereka yang sudah berolahraga jamban bisa dipakai untuk ruang ganti sekaligus merapikan diri karena tersedia cermin dan sisir. Ketika mau keluar, bagi yang ingin menyisihkan sebagian uang jajannya, tersedia kotak infak yang dananya akan digunakan untuk biaya perawatan kebersihan jamban tersebut.
            Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2007 tentang standar sarana dan prasarana untuk sekolah disebutkan adanya fasilitas jamban yang harus disediakan sekolah sebagai tempat buang air besar dan atau air kecil. Jamban harus mempunyai dinding, atap, dan seterusnya yang disediakan untuk peserta didik pria, wanita, dan guru. Sementara itu menurut Departemen Kesehatan (1995) jamban adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan kotoran manusia dalam suatu tempat tertentu, sehingga kotoran tersebut dalam suatu tempat tertentu tidak menjadi penyebab penyakit dan mengotori lingkungan pemukiman. Untuk menambah nilai fungsi jamban yang seolah identik dengan “tempat kotor” atau tempat pembuangan akhir kotoran manusia, konsep jamban jujur dibuat untuk melatih nilai karakter kejujuran serta menumbuhkan kesadaran akan arti penting kebersihan. 

Penulis, Guru Seni Budaya SMPN 35 Bandung
Dipublikasikan di HU Pikiran Rakyat, Kolom Forum Guru ( Senin, 18/2/2013)
 

Jangan Matikan Potensi Anak

Oleh : YOPPY YOHANA

Perjalanan hidup seorang Thomas Alfa Edison layak dijadikan salah satu sumber inspirasi bagi para guru, siswa, pihak sekolah maupun orang tua dalam mendidik anak. Alkisah, suatu hari seorang bocah berusia tujuh tahun, agak tuli dan bodoh di sekolah, pulang ke rumahnya membawa secarik kertas dari gurunya. Ibunya membaca kertas tersebut, “Tommy, anak ibu sangat bodoh. Kami minta ibu untuk mengeluarkannya dari sekolah”. Sang ibu terhenyak membaca surat itu, namun ia segera membuat tekad yang teguh “Anak saya, Tommy, bukan anak bodoh. Saya sendiri yang akan mendidik dan mengajar dia”.
            Tommy kecil adalah Thomas Alva Edison yang kita kenal sekarang, salah satu penemu terbesar di dunia. Dia hanya bersekolah sekitar tiga bulan, dan secara fisik agak tuli, namun itu semua ternyata bukan penghalang untuk terus maju. Guru menilainya terlalu bodoh, menganggap Edison tak mampu menerima pelajaran apa pun. Untunglah ibunya, Nancy pernah berprofesi menjadi guru. Sang ibu mengajarinya membaca, menulis dan berhitung. Ternyata Edison dengan cepat menyerap apa yang diajarkan ibunya. Edison kemudian sangat gemar membaca. Siapa yang sebelumnya menyangka bahwa bocah agak tuli yang bodoh sampai-sampai diminta keluar dari sekolah, akhirnya bisa menjadi seorang jenius.
            Dari uraian di atas kita bisa instrospeksi diri, jangan-jangan selama kita mengajar dan mendidik sempat atau pernah melakukan judgement telalu cepat kepada anak padahal setiap anak didik memiliki karakter dan tipe kecerdasan yang berbeda. Seperti yang diungkapkan oleh Tony Buzan, dalam buku Head First (2003) yang telah mengembangkan otak dan pembelajaran mengatakan bahwa setiap orang memiliki sepuluh kecerdasan yang belum banyak digali meliputi kecerdasan kreatif, pribadi, sosial, spiritual, jasmani, indriawi, seksual, numerik, spasial, dan verbal. Seorang guru yang ideal tentunya harus memahami kecerdasan dominan apa yang dimiliki anak didiknya, sehingga ketika anak “gagal” dalam pelajaran yang satu, belum tentu ia “gagal” pada bidang lain. Disinilah peran pendidik ditantang, menganggap anak gagal karena hanya satu hal, berarti telah mematikan masa depan hidup anak itu.
            Sejauh ini, guru masih mengalami kendala dalam mengarahkan anak didiknya  berdasarkan tipe atau jenis kecerdasan yang dimiliki, sehingga treatment atau perlakuan terhadap anak didik dianggap sama rata. Jika demikian, bagaimana pendidik dapat membedakan mana anak yang berpotensi di bidang seni, sains, atau sastra kalau perlakuan ngajarnya disamaratakan tanpa melihat kemampuan yang dimiliki anak. Paling tidak catatan ini akan membangkitkan kesadaran bahwa ini sebagai bagian dari tanggung jawab pendidik, yakni menilai anak didik tidak berdasarkan pandangan konvensional yang menilai kecerdasan anak hanya dilihat dari kemampuan eksakta.   
             Beruntunglah Thomas kecil memiliki seorang Ibu (Nancy Elliot) yang mengerti. Sang Ibu tidak serta merta menerima vonis dari gurunya begitu saja. Keyakinan dan usaha keras seorang Ibu membuahkan hasil yang luar biasa. Thomas Alfa Edison dalam sepanjang hidupnya telah mematenkan lebih dari seratus penemuan yang berbeda. Dari cerita akhir Thomas ini juga mengisyaratkan bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah, namun keluarga dan orang tua memiliki andil besar dalam menentukan keberhasilan seorang anak. Selain itu, hasil penelitian disebutkan bahwa hampir 90% keberhasilan ditentukan dari motivasi dan hanya 10% dari bakat. Idealnya kesinergian pihak sekolah dan orang tua akan menjadi penentunya.  

Penulis, Guru Seni Budaya SMPN 35 Bandung
Dipublikasikan di Harian Umum Pikiran Rakyat, Sabtu, 2 Maret 2013.

 

Thursday, May 2, 2013

Jangan Terjebak Plagiarisme

Oleh: YOPPY YOHANA

Plagiarisme berasal dari bahasa Latin, Flagiarius. Dalam bahasa Inggris berarti “kidnapper” yang berarti “penculik”. Plagiarisme merupakan bentuk kejahatan intelektual yang dapat merusak dan merugikan seseorang atau kelompok. Menurut Indarti dan Rostiani dalam Arbai (PR,18/1/2013) Plagiarisme dapat mencakup tidak hanya penggunaan sebagian ide, kalimat, paragrap atau keseluruhan teks karya orang lain tanpa menyebutkan sumber aslinya. Dapat pula berbentuk pembiaran orang lain untuk menuliskan atau secara substansial mengubah karya orang lain dan mengakuinya sebagai karya sendiri.

Masalah plagiarisme di dunia pendidikan sebenarnya sudah berlangsung lama sekali. Ada yang dilakukan oleh perorangan bahkan ada juga yang dilakukan secara bersama-sama atau ada “mafianya”. Berbagai cara dilakukan ada yang sembunyi-sembunyi ada juga yang terang-terangan. Beberapa plagiarisme yang sering terjadi diantaranya karya tulis ilmiah hanya diganti nama pembuatnya dan tempat penelitian saja, berbagai judul PTK (Penelitian Tindakan Kelas) diakui milik sendiri padahal karya seseorang dari kota/kabupaten lain. Selain itu di lingkungan kampus pun kita sering mendengar skripsi dan tesis diplagiasi bahkan ada yang dibuatkan oleh dosen pembimbing.

Untuk meningkatkan kualitas guru, pemerintah membuat kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya yang berlaku efektif sejak awal tahun 2013. Melalui aturan ini guru-guru dituntut untuk membuat Karya Tulis Ilmiah (KTI) atau sekarang disebut Publikasi Ilmiah diantaranya dalam bentuk presentasi di forum ilmiah, hasil penelitian, tinjauan ilmiah, tulisan ilmiah populer, artikel ilmiah, buku pelajaran, modul/diktat, buku dalam bidang pendidikan, karya terjemahan, dan buku pedoman guru. Aturan ini mendapat respon beragam terlebih dari para guru yang tidak terbiasa dengan menulis. Jika guru tidak dibekali oleh pengetahuan dalam pembuatan KTI, maka diprediksi praktek plagiarisme akan kian subur di dunia pendidikan, dengan kata lain guru-guru akan mencari jalan instan hanya untuk mengejar ambisi naik pangkat.

Tentunya, bukan itu yang kita harapkan karena sangat kontra dengan nilai intelektual seorang pendidik. Dengan demikian sangat diperlukan bentuk pelatihan-pelatihan yang isinya diarahkan pada genre “academic writing” dan pengetahuan mengenai bentuk-bentuk plagiarisme. Betapa pentingnya mencamtumkan sumber akan ide seseorang dalam sebuah tulisan sehingga dapat dibedakan mana ide orang lain dan mana ide kritis diri sendiri. Namun jangan pula aturan ini dijadikan sebagai beban, justru sebaliknya dapat dijadikan motivasi dalam pengembangan profesi sebagai guru karena sekarang guru bukan hanya harus melaksanakan profesinya tapi juga mampu mengembangkan profesinya. Untuk mengembangkan profesi bisa dilakukan melalui pengembangan diri, publikasi ilmiah dan karya inovatif.

Tidak dapat dipungkiri, di era digital seperti sekarang ini kemudahan untuk melakukan kecurangan dalam copy paste karya orang lain akan kian mudah pula. Yang harus diingat dan diaplikasikan adalah adanya kesadaran diri untuk menjaga nilai kejujuran dalam suatu karya. Mari berkarya dan bersama-sama memajukan pendidikan di Indonesia. Hati-hati jangan main klaim karya orang lain sebagai milik sendiri.


Penulis, Guru Seni Budaya  SMPN 35 Bandung 
Dipublikasikan di HU Pikiran Rakyat, Kolom Forum Guru ( Sabtu, 26/1/2013)

Thursday, July 7, 2011

Makanan Khas Panjalu

yoppy yohana "Ki Ibun"

MENGENAL MAKANAN KHAS PANJALU
KABUPATEN CIAMIS JAWA BARAT

Oleh: YOPPY Y. *


Menjelang lebaran dan menjelang hari-hari raya lainnya adalah saatnya makanan khas diproduksi secara besar-besaran karena tingginya permintaan pasar. Bagi mereka yang bekerja di kota, ajang mudik ke kampung halaman merupakan saat yang tepat untuk membawa dan memperkenalkan makanan khas daerah masing-masing untuk di bawa kembali ke kota. Barter makanan dan saling mencicipi oleh-oleh khas daerah atau makanan yang dianggap unik pun terjadi. Hal ini secara tidak langsung akan saling memperkenalkan makanan khas dari daerah lain. Begitu juga di daerah Panjalu atau sekitar Kecamatan Panjalu, dari tempat inilah makanan khas diproduksi oleh masyarakat setempat. Alhasil, Panjalu tidak hanya terkenal dengan sejarah atau wisata ziarahnya saja, namun menawarkan ragam makanan khas yang tidak kalah menarik dengan daerah lain.

Panjalu dalam Konteks Sejarah

Secara terminologi, Panjalu berasal dari kata jalu (Bhs. Sunda) yang berarti jantan, jago, maskulin, yang didahului dengan awalan pa (n). Kata Panjalu berkonotasi dengan kata-kata: jagoan, jawara, pendekar, warrior (Bhs. Inggris: pejuang, ahli olah perang), dan knight (Bhs. Inggris: ksatria, perwira).
Ada pula orang Panjalu yang mengatakan bahwa kata Panjalu berarti "perempuan" karena berasal dari kata pan+jalu atau jalu yang diberi awalan pan artinya menjadi bukan laki-laki yaitu perempuan sama seperti kata male (Bhs. Inggris : laki-laki) yang apabila diberi prefiks fe + male menjadi female (Bhs.Inggris : perempuan). Konon nama ini disandang karena Panjalu pernah diperintah oleh seorang Ratu bernama Ratu Permanadewi.

Panjalu sebagai Desa Wisata

Pada tanggal 7 Maret 2004, Gubernur Jawa Barat meresmikan kawasan Panjalu sebagai tujuan wisata ziarah tingkat nasional. Tentunya, dengan adanya deklarasi ini telah memberikan keuntungan tersendiri untuk perkembangan pariwisata setempat.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Barat, Memet Hamdan, mengakui sejarah mengenai Panjalu sangat menarik sehingga minat wisatawan untuk melakukan wisata ziarah ke daerah tersebut sangat tinggi.
Panjalu memang memiliki daya tarik tersendiri, bukan hanya sebagai kampung adat yang memiliki potensi wisata alam, wisata ziarah, dan wisata budaya (upacara Adat Nyangku) tetapi juga memiliki wisata kuliner yang sangat mendukung. Panjalu banyak memiliki makanan khas yang unik, menarik dan enak rasanya. Berikut ini beberapa makanan khas Panjalu yang sudah terkenal ke beberapa daerah:

Makanan Khas Panjalu
Makanan khas Panjalu tersebar di beberapa daerah, seperti Kalua Jeruk pusatnya di Desa Kertamandala dan Mandalare, Jawadah Takir (sejenis Wajit) di Garahang, Goreng Mujaer dan Udang di Cimendong, Opak, Kolontong, Saroja dan Raginang di Desa Maparah, Mie Golosor di Desa Sandingtaman dan lain-lain.
Makanan khas Panjalu ini memiliki rasa yang gurih, unik dan tahan lama. Berikut ini sekilas tentang makanan khas dari daerah Panjalu.

Kalua Jeruk
Yang paling unik dari makanan khas Panjalu adalah Kalua Jeruk dan Jawadah Takir. Pusat pembuatan Kalua Jeruk ada di daerah Kertamandala dan Mandalare. Menurut pengrajin Kalua, proses produksi sudah berlangsung cukup lama yaitu sekitar 40 tahunan. Kalua yang terkenal dari daerah ini pada awalnya diproduksi oleh keluarga Bu Ecin disusul oleh keluarga Bu Lilis.
Kalua Jeruk terbuat dari kulit Jeruk Bali setengah matang yang diberi gula aren (gula merah) yang diolah dengan beberapa tahapan. Dipilihnya kulit Jeruk Bali setengah matang karena memiliki kulit yang tebal dan Kalua yang dihasilkan akan enak rasanya.
Berikut ini tahapan dari pembuatan Kalua Jeruk. Pertama, Jeruk Bali setengah matang dikupas, diambil kulitnya saja yang berwarna putih. Lapisan terluar yang berwarna hijau dibuang untuk meghindari rasa pahit. Setelah itu diiris berbentuk kotak atau jajarangenjang ataupun bentuk sembarang seukuran kurang lebih 3 x 4 cm dengan tebal 1-2 cm. Kedua, kulit jeruk yang sudah dipotong direndam dengan air apu selama 2 jam, lalu diangkat didiamkan beberapa menit, lalu direbus setengah matang supaya kulit jeruknya tidak pecah-pecah, lalu dicuci dengan air dingin yang mengalir sampai bersih kemudian diperas-peras sampai agak kering. Tahapan terakhir tinggal memasukkan potongan kulit jeruk ke larutan gula aren yang mendidih. Setelah kering angkat dan siap dihidangkan. Emm… harum, enak dan gurih.

Kalua ini aman dikonsumsi karena diproses secara alami melalui tahapan yang panjang dalam mengolahnya. Pemanis yang digunakan merupakan pemanis alami dari nira aren, diproduksi tanpa memakai zat kimia. Gula aren memiliki Index Glycemic (IG) yang rendah. Rendahnya IG ini bermanfaat bagi pengidap diabetes, atau yang ingin menurukan berat badan. Bahkan gula are memiliki IG lebih rendah dari pada gula putih dan madu sehingga tidak menyebabkan kegemukan. Kalua Jeruk dari Kertamandala dan Mandalare Kecamatan Panjalu ini memiliki rasa yang unik, tidak terlalu manis, kenyal, dan empuk ketika dikunyah. Kalua ini diproses secara apik, manis gula arennya meresap ke seluruh kulit jeruk sehingga rasanya enak dan tidak ada lagi bau kulit jeruknya.
Bagi para pecinta kuliner, khususnya makanan khas, hati-hati ketika membeli kalua jeruk karena ada juga kalua jeruk yang rasanya kurang enak dan warnanya juga kurang cerah. Para penikmat kalua biasanya memesan kalua Panjalu yang berasal dari daerah Kertamadala dan Mandalare karena rasanya lebih enak dan gurih.

Jawadah Takir
Jawadah Takir adalah sejenis wajit namun pembungkusnya terbuat dari daun pisang yang kering (kararas dalam Bhs.Sunda). Yang unik dari Jawadah Takir ini adalah tidak dibungkus secara utuh, hanya ditempel diatas daun pisang kering kecil. Dalam kondisi apapun Jawadah Takir tetap kering sehingga rasanya tetap enak. Makanan ini tahan lama dan aman kerena tanpa bahan pengawet.


Goreng Udang dan Goreng Mujaer

Udang dan Mujaer ini berasal dari daerah Cimendong. Udang yang dipilih adalah udang yang yang berukuran sedang. Udang yang berasal dari Situ Lengkong Panjalu ini gurih rasanya, karena hidup bebas tanpa makanan yang dibuat oleh pabrik.
Goreng Mujaer pun enak dan renyah, karena ikan mujaer yang dipilih adalah ukuran sedang atau masih remaja. Goreng Mujaer dan Goreng Udang dikemas tanpa bahan pengawet sehingga aman untuk dikonsumsi oleh siapapun.

Opak
Opak yang terkenal adalah opak dari Desa Maparah. Opak ini rasanya renyah dan wangi. Opak terbuat dari beras ketan putih yang dihaluskan secara tradisional yaitu dengan perangkat halu dan jubleg. Kemudian dibentuk bulat tipis-tipis lalu dikeringkan dengan cara dijemur. Setelah kering lalu dipanggang di atas bara satu-satu untuk menghasilkan opak yang matang dan renyah. Ada juga yang dipanggang tiga sampai lima buah sekaligus dengan bantuan ram kawat yang disimpan di atas bara. Dari segi kuantitas memang lebih cepat namun rasanya menjadi kurang wangi dan agak keras sedikit. Jadi kepada para penikmat opak kalau menginginkan opak yang renyah, wangi dan gurih silahkan pilih opak yang dibakar satu-satu dengan menggunakan cacapit.

Mie Golosor
Dari namanya juga sudah unik yaitu golosor (Bhs. Sunda), mie ini akan meluncur licin di lidah dan enak rasanya. Mie ini terbuat dari bahan terigu berkualitas tinggi sehingga aman untuk perut dan tanpa bahan pengawet. Warna mie ini kuning segar karena pewarna yang digunakan adalah pewarna alami. Mie Golosor diproduksi oleh masyarakat Desa Sandingtaman Kecamatan Panjalu.
Dari beberapa makanan khas Panjalu yang disebutkan di atas, mungkin selera penikmat bermacam-macam dalam memilih oleh-olehnya. Ada yang sukanya Kalua Jeruk dan Jawadah Takir atau Opak saja, atau bahkan mungkin ada yang suka semuanya. Selamat menikmati hari raya dengan makanan-makanan yang sehat, halal, bergizi dan unik termasuk makanan khas sebagai menu tambahan.

Sumber : Wawancara langsung dengan pemilik home industry di Panjalu
(*Penulis: YOPPY Y. S.Pd. Guru Seni Budaya di SMPN 1 dan 2 Panjalu-Ciamis)