Saturday, August 2, 2014

Membentuk Karakter Melalui Jamban Jujur

Oleh: YOPPY YOHANA

         Ada ungkapan spontan dari rekan kerja yang mengatakan, “di zaman sekarang sulit menemukan orang-orang yang jujur”, ada juga yang mengatakan “kalau terlalu jujur tidak akan mujur”. Itulah gambaran yang mengarah kepada keputusasaan seseorang di zaman sekarang karena betapa mahalnya orang jujur yang kini kian sulit ditemukan. Kalimat kedua merupakan gambaran ketakutan seseorang yang tidak percaya diri akan nilai kejujuran sehingga ia melakukan segala daya dan upaya dengan menghalalkan berbagai cara hanya untuk meraih ambisinya secara instan.
            Memang tidak dapat dipungkiri di akhir zaman ini, masalah degradasi moral sudah menghawatirkan sehingga sejak tahun 2010 pemerintah muncul inisiatif ingin membenahi moral atau akhlak lewat gerakan nasional pendidikan karakter di sekolah-sekolah. Namun, rupanya pendidikan karakter hasilnya tidak begitu memuaskan karena tetap masih banyak sekali penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan para murid sampai mahasiswa ditambah lagi ada oknum guru yang berbuat asusila kepada muridnya. Akhirnya tahun 2013 muncul lagi kurikulum baru, yang direncanakan eksekusinya bulan Juli mendatang. Tetapi sampai sekarang masih ada pro dan kontra karena dari draf kurikulum 2013 salah satu isinya diindikasikan bahasa daerah akan semakin terpinggirkan.
            Menjelang Ujian Nasional bulan April mendatang, akankah kita semua dan para siswa bisa berbuat jujur? Entahlah kalau kepentingan sudah bermain, segala cara bisa dilakukan sehingga membuat segala sesuatunya jadi tidak jujur lagi. Untuk mendekatkan para siswa dan guru kepada kebiasaan jujur, maka di SMPN 1 Panjalu Kabupaten Ciamis dibangun “Jamban Jujur” dengan tujuan akan membentuk karakter jujur dalam kehidupan sehari-hari. Jamban ini mulai beroprasi sejak awal Januari 2013. Dari pembiasaan ini diharapkan semakin menguatkan keyakinan bahwa kita sebenarnya tidak akan lepas dari penglihatan Allah di manapun berada. Selain itu diharapkan dalam berbuat jujur, bukan hanya saat dilihat oleh manusia saja namun ada dua malaikat yang selalu mencatat amal kita.
            Jamban jujur didesain sedemikian rupa, dengan memperhatikan standar kebersihan, kesehatan dan keindahan sehingga orang akan tertarik untuk masuk dan mempergunakannya. Untuk menjaga kebersihan, pengguna tidak diperbolehkan memakai sepatu atau sandal namun ada alas kaki khusus yang disediakan. Selain bersih, nyaman dan luas jamban ini juga wangi. Toilet pria dan wanita dibuat terpisah dengan tujuan untuk keamanan dan kenyamanan para pengguna. Khusus untuk toilet wanita disediakan pembalut dan tisu yang bisa diambil sendiri kemudian uang pembayarannya disimpan di tempat karena harga sudah tercantum. Bagi mereka yang sudah berolahraga jamban bisa dipakai untuk ruang ganti sekaligus merapikan diri karena tersedia cermin dan sisir. Ketika mau keluar, bagi yang ingin menyisihkan sebagian uang jajannya, tersedia kotak infak yang dananya akan digunakan untuk biaya perawatan kebersihan jamban tersebut.
            Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2007 tentang standar sarana dan prasarana untuk sekolah disebutkan adanya fasilitas jamban yang harus disediakan sekolah sebagai tempat buang air besar dan atau air kecil. Jamban harus mempunyai dinding, atap, dan seterusnya yang disediakan untuk peserta didik pria, wanita, dan guru. Sementara itu menurut Departemen Kesehatan (1995) jamban adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan kotoran manusia dalam suatu tempat tertentu, sehingga kotoran tersebut dalam suatu tempat tertentu tidak menjadi penyebab penyakit dan mengotori lingkungan pemukiman. Untuk menambah nilai fungsi jamban yang seolah identik dengan “tempat kotor” atau tempat pembuangan akhir kotoran manusia, konsep jamban jujur dibuat untuk melatih nilai karakter kejujuran serta menumbuhkan kesadaran akan arti penting kebersihan. 

Penulis, Guru Seni Budaya SMPN 35 Bandung
Dipublikasikan di HU Pikiran Rakyat, Kolom Forum Guru ( Senin, 18/2/2013)
 

No comments:

Post a Comment